2010/02/23

The Unseens Chapter 6 (Case #1, Sacrifice [part 1])

by Radheya Anggun Feldhit “Rein!...” sahut seorang gadis memanggil namaku sambil berlari menuju tempatku berdiri dari arah kananku.
“ma… maaf…, huuuhh… ka… kau sudah menunggu lama ya?” lanjutnya sambil terengah-engah membungkuk di sampingku dengan kedua tangannya menahan beban tubuhnya dengan memegang lututnya.

“kau ini… ngapain sih lari-lari? Tidak perlu lari-lari segala, aq tidak akan kemana-mana kok. Aku akan trus di sini menunggumu” ucapku kepadanya.
“dan… pasti seperti biasanya…, kau telat bangun lg ya, Nao?” tanyaku.

“hehe… ya… begitulah…”jawabnya polos.

“aih aih… kau ini aneh, pada hari biasa, hari sekolah, kau selalu tepat waktu, malah kau sering datang lebih cepat. Namun jika hari libur kau sering terlambat. Nao… Nao…, yasudahlah, ayo kita masuk. Sudah kesiangan nih” ajakku.

Kami pun masuk ke dalam taman bermain yang berada di kota Tokyo. Aq dan Nao yang merupakan kekasihku sejak sekitar 8 bulan yang lalu berencana untuk kencan di taman bermain ini.

Di dalam aq menanyakan kepada Nao apakah dia sudah sarapan ataukah belum. Nao menjawab bahwa dia belum sarapan karena tadi telat bangun dan sesegera mungkin pergi ke tempat aq menunggu tadi. Kemudian aku pun mengajaknya untuk mencari makanan untuk mengganjal perut. Kami pun menemukan sebuah kedai makanan cepat saji. Lalu kami pun memutuskan untuk membeli makanan di situ. Saat kami sudah menerima pesanan makanan kami.

“biar aq yang membayar” ucap aq sambil mencoba mengambil dompetku yang aq taruh di saku celanaku. Namun, saat ku masukan tanganku ke saku celanaku, dompetku tidak ada.

“ada apa?”Tanya Nao.

“nggak… ini… kok dompetku tidak ada ya?”jwbku polos dengan tampang bingung.

“hah?!Masa ah? Coba cari lagi” ucap Nao.

Hmm… sebelum pergi tadi aku tidak lupa membawa dompetku di saku celanaku. Lalu… di depan rumah aq baru sadar, celana yang kupakai adalah celana seragam sekolahku. Lalu… aq pun kembali lagi ke dalam rumah kemudian mengganti celanaku. Hmm…

“AAAHHH!!! AQ TAU!!!” teriakku.

“apa? apa? apa yang kau tahu?” respon Nao kaget karena teriakanku.

“sepertinya dompetku ada di saku celana seragamku…, tadi aq salah memakai celan,malah memakai celana seragam, kemudian aq kembali dan mengganti celanaku. Saat itu sepertinya aq lupa mengambil dompetku kembali…” ucapku sambil mengerutkan alis.

“dasar bodoh…”ucap Nao dengan nada datar.

“aq tidak bodoh, Nao! IQ ku tinggi! Aq hanya ceroboh…” jwbku dengan nada sedikit dinaikkan.

“ya ya ya, aq mengerti tuan IQ tinggi yang sangat jenius,ckckck” ucap Nao dengan nada menyindir. “yasudah… biar aq saja yang bayar” lanjutnya.

“maaf y…” ucapku.

“tidak apa-apa” jwb Nao dengan senyum halus.

Setelah itu kami pun melanjutkan langkah kami untuk mencoba berbagai macam wahana yang ada di taman bermain ini. Namun di tengah perjalanan, aq mendengar sesuatu, sesuatu seperti kata-kata yang samar-samar terdengar…

“ni--… ba----…”
“nine… ba---n…”
“nine… bangun …”
“NINE!!! BANGUN!!!”

Mataku terbuka spontan, badanku terbangun seketika, detak jantungku terpacu cepat.

“dasar… kau mau tidur sampai kapan?” Tanya seseorang yang berada di sampingku.
“he?” ucapku sambil melihat ke arah sumber suara tadi.

Ternyata dia adalah Alice. Majikanku, BALANCER yang telah mengadakan kontrak denganku.

“ayo cepat bangun dan siap-siap, sebentar lagi kita akan pergi” perintahnya sambil keluar dari kamar dan mencoba mengancingkan kancing yang ada di dekat lehernya pada baju ghoticnya yang berwarna hitam kelam dengan renda putih d bagian depan, belakang, dan pada bagian ujung lengannya, serta garis putih pada bagian depan dan ujung lengannya

“baik…” jwbku lemas smbil terkantuk-kantuk.

Ternyata… itu semua hanyalah mimpi…, aq masih belum bisa melupakan Nao…
Kemudian aku melihat ke atas ke arah jam kuno yang digantungkan di dinding sambil mengucek-ucek mataku yang masih terasa berat. Jarum-jarum pada jam tersebut menunjukan pukul 08.17 waktu setempat. Aq pun bergegas bangun dari sofa yang aq duduki saat ini lalu pergi menuju kamar mandi yang ada di sebelah sofa yang tadi kududuki. Saat berada di dalam aq mencium bau yang sangat harum. Harumnya seperti harum bunga mawar yang disatukan dengan harum beberapa bunga lainnya. Sepertinya kamar mandi ini baru saja dipakai oleh Alice. Aq merasa tidak enak jika harus memakai kamar mandi ini. Kemudian aq pun keluar dari kamar Aku mencoba mencari Alice untuk menanyakan apakah ada kamar mandi yang lain selain yang berada di dalam kamar Alice.

“Alice…” panggilku dengan suara yang tidak begitu keras.

“apa?...” sahut Alice.

Aq pun mendekati Alice dengan mencari sumber suaranya. Spertinya dia sedang berada di ruang tempat dipajangnya dan dijualnya barang-barang antik yang tepat berada setelah memasuki rumah ini melalui pintu utama.

Aq pun bertanya kepada Alice sambil berjalan menuju ruangan dimana Alice berada, “Alice… apakah d rumah ini ada kamar mandi lainnya sela…”.



Omonganku terpotong karena perasaan tak percaya dengan apa yang kulihat di ruangan dimana Alice berada. Di sana aq melihat Alice sedang terdiam berdiri sambil memejamkan mata seperti berkonsentrasi serta lingkaran berukuran besar semacam lingkaran sihir bercahaya ungu hitam yang berada di bawah kaki Alice. Yang membuatku lebih kaget lagi adalah sesuatu yang dipegang oleh Alice dengan kedua tangannya. Sebuah tongkat sabit berwarna hitam ungu dengan model yang sangat aneh namun menyeramkan apabila di perhatikan dengan seksama. Mempunyai dua pisau sabit pada bagian atas dari tongkatnya dan satu pisau sabit di bawah dua pisau sabit tadi. Serta terdapat bola kistral berwarna ungu pada bagian atas tongkatnya. Selain itu, sabit itu mengeluarkan aura berwarna ungu hitam.

“ada apa? kau ingin mengatakan apa?” Tanya Alice sambil membuka kedua matanya yang bersamaan dengan lenyapnya lingkaran sihir dan berubahnya tongkat sabit yang dipegangnya tadi menjadi sebuah paying hitam bergaris putih dan ber renda putih di ujungnya.

“ng… anu… kamar mandi… kamar mandi…”jawabku ngaco sambil terbengong.

“apa?” Tanya Alice bingung.

“ha?”ucapku sadar.
*PLAKK!!!* aq menampar wajahku sendiri untuk mengembalikan kesadaranku.
“yang tadi itu! Apa?!” tanyaku spontan.

“ooo… itu, itu Death Scythe ku, Death Weapon ku” jawabnya singkat.

Jadi… itukah Death Weapon… jadi itukah yang kelak akan kumiliki juga?...

“KEEREEEEEENNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku histeris.

“berisik! bknkah tadi ada yang ingin kau tanyakan?!” jwb Alice spontan.

“oh iya! Ng… aq lupa tadi ingin bertanya apa y?hehe…” jwbku polos sambil tertawa kecil.

*BLETAKK!!!* tinju tangan kanan Alice mendarat di kepalaku yang ber- IQ tinggi ini.

“SAAAAKIIITTT!!! APAAN SIH?!!! TIBA2 NGEJITAK!” teriakku sambil memegang kepala menahan sakit.

“serius dikit donk! Td kau ingin bertanya apa?!” tanyanya dengan nada yang tinggi.

“oh! Kamar mandi! Kamar mandi! Selain yang ada di kamarmu, apa ada kamar mandi lain?” jawabku yang tiba-tiba langsung ingat setelah dijitak oleh Alice.

“memang kenapa dengan kamar mandi yang ada di kamarku?” jwabny bingung.

“tidaaak… aq hanya merasa tidak enak jika harus memakai kamar mandimu” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangku.

“ada d lantai dua, bersebrangan dengan kamar kosong yang tadi malam kutunjukan” jwabnya jelas.

“hoo… okay, thank you” jwabku singkat.

Aq pun bergegas menuju kamar mandi yang Alice beritahukan letaknya tadi untuk mandi.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap aq pun bergegas menuju keluar rumah. Alice sudah menungguku di depan gerbang rumahnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan kakinya mengetuk-ngetuk batu jalanan yang dipijaknya. Dari kelakuannya aku bisa menduga dia pasti aga kesal karena lama menungguku.

“sebentar sekali ya kau untuk mandi dan bersiap-siap” ucapnya datar sambil tersenyum sinis.

“aih aih, maaf… maaf…” jwabku memohon.

“yasudahlah… kita sudah terlambat, ayo kita pergi” ajak Alice.

Kami pun melangkahkan kaki menyusuri jalan menuju stasiun kereta terdekat. Alice bilang kita akan menemui seorang klien PANDORA di salah satu foodcourt yang ada di Shibuya.
Di dalam kereta, kami duduk menunggu kereta ini sampai d stasiun Shibuya. Sambil menunggu, aq menanyakan beberapa hal pada Alice.

“hei Alice, memangnya… ada urusan apa klien tersebut dengan PANDORA?” tanyaku penasaran.

Alice pun menjawab, “PANDORA itu… toko barang antik apabila dilihat dari luar, namun sebenarnya… PANDORA adalah sebuah grup yang aq dirikan untuk menangani masalah-masalah supranatural yang ada di wilayah-wilayah sekitar. PANDORA bisa disebut sebagai SPSA (Supranatural Problem Solution Agency). Para manusia yang mempunyai masalah supranatural, mendatangi PANDORA untuk meminta bantuan untuk menangani masalah supranatural mereka. Dari itu, aq bisa memonitor serta mendapatkan informasi –informasi penting mengenai aktifitas-aktifitas para †D†. Karena masalah supranatural, biasanya ada hubungannya dengan †D†. Itulah tujuan utamaku mendirikan PANDORA. PANDORA dapat membantuku dalam menjaga keseimbangan dunia”.

“jadi klien yang kita temui ini mempunyai masalah supranatural y, lalu dari mana dia mengetahui tentang PANDORA sebagai SPSA. Bukankah dari luar PANDORA hanya diketahui sebagai toko barang antik?” tanyaku kembali.

“biasanya orang-orang mengetahui tentang PANDORA dari informasi mulut ke mulut” jawabnya.

*tiiing… stasiun shibuya… stasiun shibuya…* bunyi suara di dalam kereta yang menandakan kita sudah sampai di stasiun shibuya.

Kami pun keluar dari stasiun. Alice membuka payung yang dipegangnya dari tadi, cuaca di sini memang agak panas. Di sini kami melihat banyak sekali orang-orang berlalu-lalang. Wajar, shibuya merupakan salah satu daerah shopping district terbesar di Jepang. Banyak sekali toko-toko pakaian, perhiasan, dan lainnya yang ada di sini. Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju foodcourt yang dikatakan Alice tadi. Namun di tengah perjalanan, aq menyadari banyak sekali orang yang melihat ke arah kita. Mungkin itu dikarenakan penampilan kita yang terlalu mencolok. Baju ghotic hitam dengan renda putih dan garis putih yang di pakai Alice, serta payungnya yang berwarna hitam dengan garis putih dan renda putih di ujungnya. Warna rambutku pun terlihat mencolok dengan warnanya yang perak. Namun untung saja mata kiriku yang berwarna perak dan pupilnya yang berbentuk garis, ditutupi oleh setengah rambut depanku.
Mungkin orang-orang mengira kami ini sedang cosplay (costume playing).
Sesaat sebelum kami sampai di tempat tujuan pun ada seseorang yang meminta foto Alice dan menawarinya menjadi model. Ya… wajar saja, wajahnya yang imut seperti boneka serta rambutnya yang pirang dan panjang, matanya yang berwarna merah seperti batu ruby. Tentu mengundang perhatian. Namun tawaran orang itu tidak digubrisnya, Alice mengacuhkan orang itu begitu saja. Dasar… dingin…, aq pun meminta maaf pada orang itu dan mengatakan bahwa kami sedang ada urusan dan sedang terburu-buru. Kemudian aku pun berlari mengejar Alice yang sudah berjalan jauh di depanku.

“hei… kau tidak boleh mengacuhkannya begitu saja, setidaknya jika kau tidak mau katakanlah maaf” ucapku.

“orang seperti itu… aq tidak suka. Manusia seperti mereka berbahaya, aq tidak suka” jawabnya.

“haa?” responku bingung.

“kita sudah sampai” ucap Alice.

Kami tiba di sebuah foodcourt yang terletak pada bagian luar pada sebuah mall. Kami pun memasuki foodcourt tersebut, Alice menutup payungnya yang di buka tadi. Di dalam foodcourt aq melihat seorang bapak-bapak berkacamata dengan rambut yang beruban sedikit memakai setelan formal layaknya orang yang bekerja lengkap dengan kopernya sedang duduk di salah satu kursi pada salah satu meja makan yang ada di dalam foodcourt tersebut yang aq duga adalah klien kami. Dan dugaanku benar, Alice mendekati orang tadi kemudian kami pun duduk di kursi pada meja makan yang sama dengan orang tadi.

“anda pasti pemilik PANDORA itu” ucap orang itu sambil menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

“ya anda benar, saya Alice pemilik PANDORA” jawab Alice yang juga menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

Dengan membungkuk sedikit orang tersebut berkata, “perkenalkan, saya Dr. Takashi minomura dari salah satu rumah sakit yang ada di dekat shibuya, dan yang ada di samping anda itu… “ ucapnya sambil melihat ke arahku.

“ooh… dia bukan orang asing, anda tidak perlu khawatir, dia adalah asisitenku” tutur Alice.

“begitu ya… aq mengerti” jawab Dr. Takashi.

“lalu…, ada keperluan apa anda dengan PANDORA?” Tanya Alice jelas.

“oh ya! Itu… anu… saya dengar PANDORA adalah toko barang antik, namun di balik itu saya mendengar pula bahwa PANDORA… bisa… menangani masalah masalah supranatural…” ucapnya dengan nada yang dikecilkan.

“lalu?” Tanya Alice kembali.

“ya… jika itu benar… saya mewakili pemilik rumah sakit… ingin meminta bantuan PANDORA untuk menangani masalah yang ada di rumah sakit tempat saya bekerja…, karena… karena masalah itu… sudah ada beberapa pegawai kami, dan beberapa dokter-dokter lainnya yang menjadi korban atas sesuatu yang tidak kami ketahui penyebabnya. Karena hal itu pula banyak pasien kami yang mengeluh dan dipindahkan ke rumah sakit yang lain ” jawab Dr. Takashi.

“ begitu ya…, jika memang masalah seperti itu yang terjadi, dan jika memang kami menyatakan masalah “jenis seperti itu” yang terjadi, kami akan membantu anda” respon Alice jelas.

“jadi anda akan membantu kami?!” Tanya Dr. Takashi.

“ya… namun pertama-tama kami harus memeriksa terlebih dahulu apakah penyebabnya memang sesuatu yang kami kira. Jika memang penyebabnya adlah itu, kami akan membantu. Namun jika bukan, kami melepas keputusan selanjutnya masalah tersebut kepada kalian.” Jwab Alice kembali.

“hoo terima kasih banyak! Terima kasih! Kami benar-benar menghargai pertolongan kalian!” tutur Dr. Takashi. “lalu kapan kalian akan mulai memeriksa?” lanjutnya.

“saat ini juga” jawab Alice singkat dan jelas.

“saya mengerti, saya akan segera memberitahu, menelepon pihak rumah sakit dan menyiapkan segalanya, akan saya siapkan pula kendaraan untuk pergi ke sana. Tunggu sebentar” pinta Dr. Takashi.

“ya” jawab Alice singkat

Orang itu pun kemudian pergi meninggalkan kami. Sambil menunggu, Alice menyuruhku untuk memesan makanan cepat saji sambil memberiku uang. Kemudian aku pun pergi menuju tempat pemesanan dan memesan dua buah hamburger dan dua buah softdrink. Kebetulan, kami memang belum sarapan. Sambil sarapan tiba-tiba Alice bertanya sesuatu padaku, “apa kau bisa menduga masalah apa yang dimiliki rumah sakit yang diceritakan orang tadi?” tanyanya padaku.

“ha? Apa? hmm… apakah gangguan roh-roh halus? Apakah mungkin rumah sakit itu digentayangi oleh roh-roh halus?” jawabku agak ragu.

“itu mungkin saja. Akan tetapi orang itu tadi berkata, beberapa pegawai dan dokter telah menjadi korban. Jiwa manusia yang telah mati tidak bisa menyakiti manusia yang masih hidup, atau makhluk-makhluk lainnya yang masih hidup. Walaupun jiwanya dipenuhi rasa dendam atau semacamnya” respon Alice sambil sedikit-sedikit memakan hamburger miliknya.

“lalu menurutmu, apa yang menyebabkan adanya korban?” tanyaku penasaran sambil tetap memakan hamburgerku.

“menurutku ini ada hubungannya dengan †D† yang melakukan TREPASSING. Atau… mungkin juga…, jiwa manusia yang sudah mati memang tidak bisa menyakiti makhluk hidup lainnya… kecuali… merasuki tubuh makhluk hidup tersebut. Namun hal itu kecil kemungkinan terjadi karena jiwa manusia yang telah mati tidaklah kuat, mereka lemah. Dan seharusnya… para penjaga gerbang sudah menarik mereka untuk dimasukan ke dalam salah satu dimensi. Dasar… penjaga gerbang di masa kini sama saja dengan manusia…, semakin banyak malasnya untuk bekerja” tutur Alice.

“ha? Apa? penjaga gerbang? Satpam maksudmu?” jawabku konyol sambil memakan potongan terakhir hamburgerku.

*BLETAKKK!!!*
Kepalan tangan Alice yang kecil kembali mendarat di kepalaku, walaupun kecil namun rasa sakitnya sama dengan kepalan tangan yang besar.

“AAUUWW!!!...” jeritku.
“a… alice…, kali ini apa lagi… ?aduduh” tanyaku sambil mengusap-ngusap kepalaku yang tadi di pukul Alice.

“bodoh, serius sdikit! Mana mungkin satpam kan!” ucapnya dengan nada yg sedikit ditinggikan.

“ya tadi kan aq hanya bertanya…” jawabku dengan alis yang dikerutkan.
“jika bukan satpam lalu apa?” lanjutku.

“maksudku gerbang adalah GATE, penjaga GATE, GUARDIAN of GATE. Yang menjaga gerbang yang memisahkan dimensi kita dengan ke dua dimensi lainnya” tutur Alice.

“ooh… maksudmu GoD dan GoDDes?” tanyaku jelas.

“iya, roh manusia yang telah mati akan dicari dan dibawa untuk melalui salah satu GATE tersebut menuju salah satu dimensi dibaliknya oleh penjaga GATE itu, kecuali roh atau jiwa yang kasus matinya sama denganmu Nine, para Innocents” jwabnya jelas.

“begitu ternyata… aq mengerti!” responku dengan nada yang dikeraskan sedikit sambil mengangkat tangan kananku ke atas.

Di saat kami sedang asyik mengobrol, dokter tadi datang kembali dan memberitahu bahwa semuanya sudah siap lalu mengajak kami untuk naik ke dalam mobil yang berwarna putih. Aq dan Alice duduk di kursi belakang, Dr. Takashi dan supirnya yang bernama Hiroshi Kizuno berada di depan. Kemudian kami pun pergi menuju rumah sakit yang di tuju.

“oh y, kami sudah menyiapkan bayaran muka dan sisa pembayaran di akhir jika masalah ini bisa diselesaikan, serta tempat penginapan di hotel yang tidak jauh dari rumah sakit untuk kalian tinggal sementara bila masalah ini jadi kalian tangani, semua fasilitas telah kami sediakan” tutur Dr. Takashi.
“jika tidak keberatan aku ingin meminta no rek. PANDORA dan no. yang bisa dihubungi” pinta Dr. Takashi sambil menengokkan kepalanya ke belakang.

Alice kemudian mengambil dompetnya yang ada di tas kecil yang diselendangkan di bahu kanannya yang model dan warnanya cocok dengan baju yang dikenakannya. Lalu dia mengambil kartu namanya yang ada di dalam dompet serta menuliskan no.rek nya pada secarik kertas yang kemudian diberikan kepada Dr. Takashi.
Aku baru tahu, ternyata BALANCER pun memiliki rekening tabungan, ckckckck.

“hei Alice, apa kau memiliki ponsel?” bisikku kepadanya.

“punya, memang kenapa?” tanyanya bingung.

“tidak… aq hanya ingin tahu. Ternyata BALANCER pun mempunyai rekening tabungan dan alat elektronik seperti itu y, ckckck” bisikku kembali.

“walaupun aq seorang BALANCER aku harus mengikuti perkembangan jaman, karena dengan begitu dapat membantuku juga” jawabnya jelas.

“hoo… masuk di akal” jwbku singkat.

Mobil pun berhenti di depan rumah sakit yang dimaksud. Bangunan yang cukup modern dengan ukuran yang sangat besar di cat dengan warna putih dengan garis berbentuk “cross” berwarna merah pada bagian atas bangunan. Aq merasakan sesuatu yang janggal dari bangunan ini. Saat ku sedang memperhatikan dengan seksama gedung ini, aq melihat sosok seorang gadis sedang melihat kemari melalui kaca di lantai atas sebelah kanan rumah sakit tersebut. Mungkin dia adalah pasien rumah sakit ini, dugaanku. Kami pun dipersilahkan untuk masuk untuk memeriksa bangunan yang cukup modern ini. Kami dengan perlahan menyusuri lorong di dalam rumah sakit ini hingga kemudian kami tiba di salah satu lorong di lantai dua yang sangat sepi sekali. Alice secara tiba-tiba berhenti di depan kamar bernomor 44 dan memperhatikan kamar itu dengan seksama.

“apakah di dalam kamar ini ada pasiennya?” Tanya Alice pada Dr. Takashi.

“ti… tidak… kamar ini sudah tidak digunakan lagi sekitar 5 tahun yang lalu, pasien yang di kamar ini dulu meninggal karena bunuh diri, semenjak itu para pasien yang ditempatkan di kamar ini selalu mengalami hal-hal aneh, seperti melihat sesosok bayangan, suara-suara aneh, hingga pada akhirnya pasien yang ditempatkan di kamar ini selalu tewas. Orang-orang yang melewati ruangan ini pun sering mengalami hal aneh, karena itulah… sangat jarang sekali orang melewati lorong ini” Tuturnya.

“hmm… apa boleh kami melihat ke dalam?” pinta Alice.

“ooh silahkan silahkan” respon Dr. Takashi.

*krek*
*Krriieeeettttt*
Suara dari sebuah pintu yang sedang dibuka, namun seperti sudah lama sekali tidak dibuka. Suara dari pintu itu membuatku merinding…
Sebuah ruangan yang sangat tidak terawat, dengan ranjang pasien yang sudah kotor dan rusak, dinding dinding yang dipenuhi debu, jamur, dan jaring laba-laba. Ruangannya begitu gelap karena jendela yang tertutupi hordeng berwana biru muda yang sudah kusut dan kotor. Ruangan ini tidak pantas untuk merawat pasien.

“Nine, apa kau mencium sesuatu yang aneh?” Tanya Alice.

“hmm… seperti bau yang aga menyengat” jawabku.

“sulfur…” ucap Alice dengan nada yang cukup kecil.

“apa?” tanyaku.

“di ruangan ini terjadi aktifitas supranatural” tutur Alice sambil menengokkan wajahnya ke arah Dr. Takashi.

Kemudian kami pun keluar dari ruangan itu.

“kami akan membantu kalian” ucap Alice.

“syukurlah… terima kasih banyak!” tutur Dr. Takashi.

Kemudian kami pun berjalan menuju lobby yang ada di lantai satu. Alice memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan pada saat hampir tengah malam nanti. Dr. Takashi pun mengantarkan kami ke hotel tempat dimana kami akan menginap yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tadi. Dr. Takashi mengantar kami ke dalam, ke depan kamar no. 176, kamar dimana kami akan beristirahat. Hiroshi, supir Dr. Takashi akan menginap juga di sini, di sebelah kamar kami di kamar no. 175. Dr. Takashi sengaja menyuruh Hiroshi untuk menginap disini untuk berjaga-jaga mengantarkan kami apabila kami akan pergi ke rumah sakit itu.
Kemudian sesampainya di depan kamar, Dr. Takashi berpamitan kepada kami untuk pulang, Hiroshi lalu mengantarkannya terlebih dahulu, kemudian nanti akan kembali lagi kemari.
Aku dan Alice pun masuk ke dalam kamar dan beristirahat sejenak. Di kamar yang kami tempati, terdapat dua buah kasur, satu kamar mandi, sebuah kulkas, televisi, air condtitioner, telepon,dan fasilitas lainnya yang cukup mewah. Kamar ini mungkin kamar VIP, dari bentuk arsitekturnya pun sangat detail dan indah.

“Alice, apa maksudmu dengan sulfur tadi?” tanyaku sambil mencoba berbaring di salah satu kasur yang ada di dekat jendela kamar yang menuju balkon luar.

Alice pun duduk di salah satu kasur yang ada di sebelahku menghadap ke arahku dengan satu kaki di tumpukkan di atas kakinya yang lain seperti biasanya, dan dengan kedua tangannya yang sambil membuka buku yang tadi dikeluarkan dari tas kecilnya kemudian menjawab, “Belerang…, aktifitas †D† atau supranatural lainnya biasanya ditandai dengan adanya sedikit bau belerang atau sulfur”.
“ada yang aneh dengan kamar itu” tuturnya sambil membalikkan halaman-halaman buku yang dibacanya dengan tangan kanannya.

“aq juga merasakan hal aneh tentang kamar itu, dan… kau ini sebenarnya sedang membaca apa sih???” tanyaku penasaran.

Aq pun mendekatkan kepalaku untuk melihat sampul buku yang sedang dibaca Alice.

“SERIAL CANTIK?!!! TERNYATA KOMIK!!!” teriakku terkejut.

*BLETAKK*
Ketiga kalinya tinju tangan kanan Alice mendarat di kepalaku.

“berisik ih! Memang kenapa jika buku yang aq baca ini komik?!” tanyanya dengan nada yang ditinggikan.

“sakit…, tidak apa-apa… hanya saja… BALANCER membaca komik juga y…, ternyata kau tidak jauh berbeda dengan gadis seumurmu…” tuturku.
“oh y! ngomong-ngomong aq belum tahu umurmu, berapa umurmu? Hmm… biar kutebak… 14? 15?” lanjutku.

“17” jwbnya singkat.

“he?” responku terdiam, mencoba mencerna kata-katanya tadi.



“HEEE?!!! KAU 17 THN?! TIDAK MUNGKIN!!! AQ SAJA BARU BERUMUR 16 TAHUN!!!” teriakku kembali
“aku kira kau lebih muda dariku, karena tubuhmu yang mungil itu…” lanjutku.

“tubuh mungil bukan berarti umurku lebih muda darimu kn” jwbnya sinis.

“iya iya… tuan putri…” responku.
“hmm… bosan…, sambil menunggu malam datang, enaknya sambil melakukan apa y…” pikirku bingung.
“Hmm…”
“hmm…”
“Hm..”
“…”


Saking terlalu dalamnya memikirkan akan melakukan apa untuk membuang waktu menunggu malam tiba, aq pun tertidur dengan pulasnya hingga aq bermimpi tentang rumah sakit tersebut. Rumah sakit di mimpiku sedikit berbeda dengan yang pernah aq dan Alice datangi. Ukuran rumah sakit itu tampak lebih kecil. Aq pun memasuki rumah sakit tersebut. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Aq terus dan terus berjalan hingga aq berdiri di depan kamar dengan no. 44 yang tadi aq periksa bersama Alice. Aq mencoba masuk ke dalam kamar tersebut. Lalu di dalam… aq terdiam terpaku seakan tidak bisa bergerak melihat pemandangan mengerikan yang ada di dalam kamar tersebut. Seorang gadis berada di atas ranjang pasiennya bersimbah darah, darah dimana-mana hingga dindingnya pun seakan-akan di cat berwarna merah. Di perut gadis itu tertancap sebuah pisau bedah, dan kepalanya terpenggal, hilang entah kemana. Lalu aq melihat sebuah tanda aneh pada bagian lengan kirinya. Tanda berbentuk pentagram. Aku pun mencoba untuk mendekatinya. Di saat yang sama pula aq mulai terbangun oleh panggilan Alice.

“NINE!!! NINE!!!” panggil Alice sambil menggoyang-goyangkan tangan kiriku mencoba membangunkan aku.

“ng…?” jwbku sambil mengucek-ngucek kelopak mataku yang masih terasa saling menempel dengan tangan kananku.
“apa?” tanyaku.

“kita harus segera ke rumah sakit itu!” perintahnya sambil bersiap-siap dengan terburu-buru.

“he? He? Memang kenapa? Ada apa?!” tanyaku penasaran dan bingung.

“sudah yang penting sekarang cepat bersiap-siap, nanti aq jelaskan” tuturnya.

Aq pun dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka, kemudian bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Kami mengetuk-ngetuk kamar Hiroshi, dan memintanya untuk segera mengantarkan kami menuju rumah sakit itu. Kami pun pergi dengan menaiki mobil. Di dalam mobil aq menanyakan alasan kenapa Alice sangat terburu-buru.

“nona muda, sebenarnya ada apa?” Tanya Hiroshi sambil tetap berkonsentrasi mengendarai mobilnya.

“iya, sebenarnya ada apa? kenapa terburu-buru sekali? Bknkah kau bilang akan kembali saat sudah hampir tengah malam? Dan… sekarang masih jam 9 malam” tanyaku penasaran.

“saat aku berada di balkon sambil membaca buku, aq melihat suatu pergerakan distorsi udara terjadi di sekitar rumah sakit itu. Dan sangat sedikit tercium bau belerang saat ku berada di balkon. Mungkin kau tidak akan menciumnya karena jaraknya yang terlalu jauh, namun untuk BALANCER, sangatlah peka pada bau belerang” tuturnya.

“pergerakan distorsi udara?” tanyaku bingung.

“ya, udaranya terlihat tidak jelas, blur. Dan terlihat bergoyang-goyang seperti fenomena fatamorgana. Mungkin bagi manusia biasa tidak akan menyadari hal itu. Pergerakan distorsi udara terjadi apabila GATE di paksa untuk dilalui dari luar” ucapnya.

“memaksa memasuki GATE dari luar? Jangan-jangan… maksudmu…”

“ya…”
“†D† sedang mencoba untuk melakukan TREPASSING ke dimensi ini” tutur Alice.

“†D†? Tanya Hiroshi bingung.

“iya, †D†. atau mungkin anda lebih mengenalnya dengan sebutan iblis” jawabku.

“kita harus cepat!” ucap Alice.

Hiroshi pun mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat menuju rumah sakit tersebut. Hingga akhirnya kami pun tiba di depan pintu masuk utama rumah sakit. Memang benar apa kata Alice… aq dapat mencium bau belerang skrng, walaupun samar-samar. Dengan terburu-buru aq dan Alice sesegera mungkin masuk ke dalam rumah sakit, menuju sumber distorsi tersebut yang kami duga berasal dari kamar no.44 yang tadi kami datangi.

*tap tap tap tap tap tap tap tap…*
Suara langkah kakiku dan Alice terdengar nyaring saat berlari karena benturan yang terjadi antara kaki kami dan lantai yang tersusun dari keramik ini. Kami menaiki tangga darurat dengan cekatan kemudian berlari kembali menyusuri lorong di lantai dua hingga kami pun tiba di di depan kamar no.44.

*BRAAAKKK*
Aq mendobrak pintu kamar hingga berbunyi keras sekali.

“a… apa itu…?” ucapku tidak percaya...
Di dalam… aq melihat sesuatu yang baru pertama kulihat yang sama sekali di luar akal sehatku. Pertama kali ku melihat hal yang seperti ini…., aq… benar-benar tidak dapat mempercayainya…

Aq melihat…

*to be continued*

Apa yang berada di dalam kamar itu?...
Apa yang dilihat oleh Nine dan Alice?...
See you in the next chapter, The Unseens Chapter 7 (Case #1, Sacrifice [part 2])

Mohon komentarnya sejauh ini bagaimana tentang ceritanya^^
Ayo duga apa yang bakal terjadi di chapter 7!

No comments:

Post a Comment